Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Khutbah : Menyambut Lailatul Qodar

Khutbah : Menyambut Lailatul Qodar


الحَمْدُ للهِ، اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه،وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Di dalam Kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Ghazali, diceritakan bahwa, Suatu ketika Rasulullah bercerita kepada para sahaba tentang seorang Nabi dari kaum Bani Israil. Ia bernama Syam'un Al Ghozi. Seorang Mujahid yang memerangi orang Kafir selama 1000 bulan. Senjatanya adalah Rahang unta. Apabila senjatanya di pukulkan, maka musuh akan terbunuh hingga jumlah yang tak bisa dihitung. Apabila Ia haus, dari senjatanya keluar Air minum. Dan apabila ia lapar, dari senjatanya tumbuh daging yang dapat di makan”.
Karena keberadaan Syam'un yang kuat, orang Kafir Bani Israil menjadi lemah dan mereka mencari cara untuk mengalahkan Syam'un. Disepakatilah satu cara, yaitu membujuk Istri Syam'un dengan imalan harta yang banyak bila istri Syam’un bisa membunuh suaminya. 

Akan tetapi Istri Syam'un enggan dan menjawab , “Maaf saya tidak mampu dan tidak tega untuk membunuh suami ku”. Raja Kafir berkata, “Kalau kamu tidak tidak mampu dan tidak tega, Maka ikatlah tangan dan kaki suamimu saat dia tidur dengan tali yang kuat yang aku berikan”. 

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Pada saat Syam'un Al Ghozi tidur, diikatlah tangan dan kaki nya oleh sang istri. Ketika Syam’un  bangun ia bertanya, “Wahai istriku siapakan yang mengikatku dengan tali ini?”. Istrinya menjawab, “Aku yang mengikatnya, Aku hanya ingin mencoba seberapa kuatkah dirimu”. Syam'un pun menghancurkan tali ikatan istrinya dengan sangat mudah dan Ringan.

Pada malam berikutnya, Istri Syam’un mengikat Syam’un dengan rantai yang leih kuat. Akan tetapi seperti pada malam seelumnya. Syam’un melepasnya dengan sangat mudah dan ringan. Pada akhirnya, Syam’un membocorkan rahasia kekuatannya  yang ada pada 8 helai ramutnya kepada Sang Istri dengan tanpa kecurigaan sedikitpun.

Dan pada malam harinya, ketika Syam'un tidur, di potonglah 8 helai rambut itu oleh Istrinya.  4 helai digunakan untuk mengikat kedua tangannya, dan 4 helai digunakan untuk mengikat kedua kakinya.

Ketika Syam'un terbangun ia bertanya kepada istrinya, “Wahai istriku, Siapakah yang mengikat tangan dan kakiku menggunakan rambutku ini?”.  Istrinya menjawab, “Aku yang mengikatmu, Aku hanya ingin memuktikan apakah benar yang engkau katakana, dan ternyata ucapanmu memang benar”.

Istri Syam'un kemudian melapor kepada Raja Kafir Bani isro'il, Maka datanglah Raja Kafir dan pasukannya. Syam'un diseret dan di bawa ke tempat yang biasa di gunakan untuk menghukum musuh musuh raja. Kedua telinganya dipotong, Kedua matanya dicongkel, kedua bibirnya diiris, Kedua kaki, kedua tangan dan lidahnya di cincang. 

Alloh kemudian memberikan Wahyu kepada Syam'un, tentang apa yang ia inginkan saat ini. . Syam’un menjawab, “Ya Robby, Aku ingin agar kekuatanku Engkau kembalikan, dan akan aku robohkan tiang ini serta  menghancurkan orang-orang Kafir”. 

Allah kemudian mengembalikan kekuatan Syam'un. Ia menggerakkan tubuhnya, maka tiang yang mengikatnya roboh. Semua bangunan istana ikut runtuh. Dan seluruh manusianya termasuk istri Syam’un ikut mati, Syam’un pun selamat, dan Alloh mengembalikan semua potongan tubuhnya seperti sedia kala. 

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Ketika Rosululloh menceritakan kisah Syam'un Al Ghozi ini, Para sahabat menangis karena ingin memiliki amal seperti Syam'un, Akan tetapi secara logika hal itu tidak mungkin karena ummat Muhammad umumnya kecil-kecil, Lemah-lemah, dan usianya pun jarang yang sampai 1000 Bulan atau 83 tahun,  lebih 4 bulan. Maka Turunlah Djibril membawa Surat Al-Qadr :

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ ۛ

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah…
Imam Ghazali di dalam kitab I’anatuththaalibiin juz II halaman 257, dan Imam Hasan al-Syadili di dalam Kitab Hasyiyah ash Shaawi juz IV halaman 337 menuturkan pengalamannya dengan  kalimat syarat yaitu, “Apabila awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka lailatul qodar jatuh pada malam 27”. 
Sementara, di dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304, di jelaskan, “Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar jatuh pada malam 25”. 

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah…
Dengan prediksi-prediksi itu, kita juga patut memperhatikan pendapat Imam Suyuthi yang mengatakan bahwa Lailatul Qadar disamarkan agar kita tidak tebang pilih untuk menghidupkan keseluruhan bulan Ramadhan.

As-Syekh Ibnu Hajar al-Asqolani juga mengutip apa yang dikatakatan oleh Sayidina Umar bin Khatab, bahwa ada 6 perkara yang disemunyikan Alloh di dalam 6 perkara, diantaranya adalah Alloh menyembunyikan Malam Lailatul Qadr di dalam malam-malam Bulan Ramadan”. Sehingga kita tidak memilih-milih hari untuk beribadah selama bulan Ramadan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذكْرِ الْحَكِيْم وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ 
إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ


Ngaji Hikam Bab Kurban

Ngaji Hikam Bab Kurban

Imam Syafii berkata bahwa : 

فقيهاً وصوفياً فكن ليسَ واحداً # فَإني وَحَقِّ اللَّهِ إيَّاكَ أَنْصَحُ

فذلك قاسٍ، لم يذق قلبه تقىْ # وهذا جَهولٌ، كَيفَ ذو الجَهلِ يَصلُحُ
Dalam syair tersebut Imam Syafii menjelaskan bahwa selain ahli fiqih seseorang seharusnya juga  belajar taswauf dan jangan memilih diantara salah satunya. Mengapa demikian?. Karena orang yang hanya mengerti ilmu fiqih hatinya tidak akan merasakan taqwa. Sementara orang yang hanya belajar ilmu tasawuf maka dia lah orang yang bodoh. Sementara orang yang bodoh bagaimana akan menjadi baik?. 

Oleh karena itu hendaknya selain belajar tasawuf juga harus belajar fiqih. Sebab fiqih membahas ibadah-ibadah lahir. Seperti di dalam ibadah shalat yang dibahas adalah bacaan niat, takbir, dan semua rukun-rukunya. Semua itu dibahas dalam fiqih. Sementara zikirnya hati kepada Allah adalah bahasan ilmu fasawuf. Karena Allah berfirman, "Tegakkan lah sholat untuk berzikir kepada-Ku". 

Sehingga pada malam ini kita akan membahas fiqih yang ada dalam kitab I'anatut Tholibin yaitu kitab syarah dari kitab Fathul Mu'in tentang kurban.  Kurban menurut Imam Syafii hukumnya adalah sunah muakadah. Atau sunah yang sangat dianjurkan. Dasar dari kesunahan qurban adalah surat al-Kautsar ayat ke-2. 
فصلي لربك وانحر 
Perintah Sholat dalam ayat tersebut adalah perintah memdirikan sholat idul adha. Dan setelah sholat idul adha maka kita disunahkan menyembelih hewan qurban. Nabi juga bersabda :

ما عمل ابن آدم من عمل يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم ، وإنه ليؤتى يوم القيامة ، بقرونها وأشعارها وأظلافها ، وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع بالأرض ، فطيبوا بها نفسا

Artinya : Tidak ada amalan anak adam pada hari nakhr atau hari idul adha yang lebih disukai Allah melebihi mengalirkan darah (menyembelih kurban), Karena kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduk dan kuku-kukunya. Dan darah yang mengalir sebelum turun ke bumi menjadikan ridla Allah Swt. Sehingga ketika kurban, perbaiki lah hatimu yaitu niat karena Allah Swt.

Sebagian pendapat mengatakan tentang hadist tersebut bahwa apabila seorang mampu kurban makan kurbanlah sapi, atau kambing, atau bahkan ayam juga boleh yang penting mengalirkan darah. Tapi pendapat itu bukan pendapat Imam Syafii. Nabi juga bersabda : 

 عظموا ضحاياكم ، فإنها على الصراط 

Kurbanlah dengan sapi yang besar. Atau jika kambing maka kurbanlah dengan kambing yang gemuk. Karena kurban adalah tunggangan melewati Shiratal Mustaqim. Kita apabila pernah melakukan berkurban berarti telah memilki tunggangan melewati shiratal mustaqim. Sebaliknya orang yang belum pernah kurban berarti dia belum memliki tungangan besok. 

Siapakah orang yang disunahkan berkurban?. Mereka adalah : (1) Orang yang merdeka, (2) Orang yang mampu yaitu orang yang memilki rezeki yang lebihi dari  kebutuhannya saat idul adha dan hari tasriq. 

Batasan hewan kurban yaitu disunahkan berupa kambing domba yang sudah berumur 1 tahun. Atau belum umur setahun tapi gigi depannya sudah tanggal atau sudah powel. Atau kambing kacang dan sapi dan kerbau yang telah berumur 2 tahun labih. Atau unta yang umurnya sudah  5 tahun. 

Ketika menyembelih kurban, penyembelih harus meniatkan kurban ketika menyembelih. Bagi penyembelih yang mewakili orang yang berkurban maka dia harus tahu nama atau kurban siapa hewan tersebut. Ditanyakan dulu nama orang yang berkurban. Karena hal itu diniatkan saat menyembelih. Perbedaan antara hewan kurban dengan bukan hewan kurban adalah saat menyembelih. Sedangkan bagi orang yang menyembelih kurbannya sendiri dia harus niat bahwa itu adalah hewan kurban sunah. Dan kurban lebih utama daripada shadaqah. 

Hukum kurban ada yang sunah dan ada yang wajib. Kurban yang wajib adalah kurban nadzar. Bagi orang yang kurban wajib atau kurban nadzar maka haram hukumnya ikut memakan daging kurban. Sedangkan apabila kurban sunah, orang yang berkurban boleh memakan dagingnya. 

Saya pernah nadzar kurban. Anak saya yang nomor 3 ketika masih kecil saat dikudang dan bereaksi yang naik kakinya hanya satu. Padahal yang satunya naik. Tapi satu kaki di bawah. Maka kami bawa ke dokter anak di Jombang. Menurut satu dokter itu adalah gejala lumpuh. Dan ibunya disalah-salahkan. Tapi di dokter yang lain katanya hal itu tidak apa-apa. Saking senangnya Bu Umi nadzar untuk ber kurban. Oleh dokter itu disarankan dibawa ke dokter yang punya terapi dan akhirnya sehat. Sehingga pada hari raya idul adha kurban dan tidak boleh memakan dagingnya. Karena kurban nadzar/ wajib.

Waktu kurban dimulai pada naikya matahari saat hari nakhr atau hari raya idul adha. Kurban dihukumi sah mulai munculnya matahari dan lewat sekira dua rokaat dan dua khutbah. Sederhananya menyembelih kurban adalah setelah sholat idul adha. 

Ada pertanyaan, menyembelih kurban pada saat malam hari raya boleh atau tidak?. Hukumnya tidak sah dan tidak boleh karena belum masuk waktu penyembelian kurban. 

Waktu penyembelihan kurban adalah saat terbit matahari 10 Dzulhijah dan setelah sholat idul adha (dua rokaat dan dua khutbah) sampai habisnya hari tasriq yaitu tanggal 13 Dzulhijah. Tasriq maknanya adalah hari mengeringkan daging karena di Makah saat itu banyak yang menyembelih kambing dan unta. Sehingga di keringkan dagingnya. Dan dinamakan hari tasriq. 

Peruntukan 1 Sapi untuk 7 orang.  Sampai ada cerita dulu zaman Mbah Bisri dan Mbah Wahab. Ada orang punya keluarga 8 jumlahnya. Sowan kepada  Mbah Bisri ingin menyembelih 1 sapi agar bisa satu rombongan. Mbah Bisri tidak memperbolehkan. Dan menyuruh untuk menambah 1 kambing. 

Akhirnya orang tersebut sowan Mbah Wahab. Kata Mbah Wahab, "Boleh asalkan yang kecil disedikan ancik-ancik 1 kambing". Sebenarnya jawabannya sama tapi bahasa yang disampaikan berbeda. 

Tidak cukup untuk kurban apabila ada hewan kurban yang kurus. Terputus ekornya sebagian. Atau putus telinganya walaupun hanya sedikit. Juga hewan yang pincang. Serta matanya buta satu. Serta hewan yang sedang sakit. Boleh berkurban bagi hewan yang telinganya bedah. 

Pendapat yang dapat dijadikan pegangan tidak cukup kurban dengan memakai hewan yang hamil. Ulama khilaf. Dan yang muktamad tidak memperbolehkan. Boleh menurut Imam Ibnu Rif'ah asalkan hamilnya tidak mengurangi daging hewan kurban tersebut. 

Apabila ada orang kurban nadzar. Dengan Nadzar yang aneh yaitu kurban nadzar dengan hewan yang kecil atau cacat. Maka dia saat akan menyembeli kurban. Maka tetap wajib menyembelih untuk memenuhi nadzarnya. Tapi tidak sah kurbanya. Karena tidak mencukupi syaratnya. 

Orang yang berkurban nadzar haram untuk memakan daging kurbannya sebab kurbannya menjadi kurban wajib. Nadzar ada dua macam yaitu nadzar haqiqatan dan nadzar hukman. Contoh madzar haqiqatan adalah Jika ada orang mengatakan, "Jika saya diberi Allah sehat maka saya akan berkurban besok". Ini adalah nadzar haqiqatan. 

Sedangkan nadzar hukman seperti yang disebutkan dalam kalimat, "Ini adalah kurban saya". Dia mengatakan, ini adalah kurban saya. Kalimat yang seperti ini secara fiqih sudah termasuk nadzar hukman. Panitia yang paham harus memilah jangan sampai orang tersebut memakan daging kurbannya sendiri. Karena daging hewannya haram dimakan untuknya. 

Kurban nadzar wajib diberikan kepada orang walaupun hanya 1 fakir dalam keadaan mentah. Berbeda dengan aqiqah. Jika aqiqah yang dibagi dalam keadaan sudah dimasak. 

Jika kurban sunah maka yang afdol orang yang kurban ikut makan walaupun hanya 1 pulukaan untuk tabaruk. Disunahkan orang yang kurban agar menyembelih sendiri. Jika tidak bisa maka yang kurban disunahkan untuk melihat. Berdasar pada hadist bahwa saat Sayidah Fatimah kurban beliau diperintah Nabi untuk datang menyaksikan. 

Dimakruhkan bagi orang yang akan kurban  mulai tanggal 1 Dzulhujah sampai kurbannya disembelih makruh memotong bagian tubuhnya yaitu rambut, kuku, kumis, jenggot, dsb. 

Apabila punya orang tua yang sudah wafat dan belum pernah kurban, apakah boleh dikurbani oleh anaknya?. Jawabannya adalah masih diperselisihkan. Menurut pendapat pertama tidak boleh kecuali sudah ada wasiat. Kedua diperbolehkan karena berkurban termasuk shodaqah. Dan shadaqah bagi orang yang wqfat diperbolehkan dan sampai. 

Dari Asiyah berkata ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Saw, "Ada seorang laki-laki berkata 'Sesungguhnya ibuku telah mati mendadak, aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan menyuruh untuk beeshodaqah. Apakah aku boleh bershodakah untuk mereka atau atas namanya?. Rasulullah Saw berkata, "Bersadaqahlah untuk orang tuamu". (*)

- Disarikan dari Pengajian Al-Hikam setiap Malam Selasa oleh KH. Yahya Husnan, M.PdI di Masjid Bumi Damai Al-Muhibin Tambakberas Jombang 20 Mei 2024. 
 

Ngaji Hikam Bab Keutamaan Membaca Alquran, Shalat dan Zikir

Ngaji Hikam Bab Keutamaan Membaca Alquran, Shalat dan Zikir

Disebutkan dalam surat Al-Angkabut Ayat 45 : 

اُتۡلُ مَاۤ اُوۡحِىَ اِلَيۡكَ مِنَ الۡكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ ​ؕ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنۡهٰى عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَالۡمُنۡكَرِ​ؕ وَلَذِكۡرُ اللّٰهِ اَكۡبَرُ ​ؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ‏ ٤٥ ۞ 

Artinya : Bacalah Kitab (Alquran) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (45)
Dalam ayat tersebut Allah memerintah kepada Nabi Muhammad untuk membaca Alquran. Namun maksudnya bukan hanya Nabi Muhammad  saja tapi juga umatnya yaitu kita semua. Selain itu dalam ayat tersebut kita juga diperintah sholat dengan bersungguh-sungguh serta zikir kepada Allah. Secara garis besar ayat tersebut mengandung 3 perintah yaitu:

1- Membaca Alquran
Surat Al-Angkabut ayat 45 tersebut memerintah kepada kita agar membaca Alquran. Walaupun kadang sebagian orang awam berpendapat untuk apa Alquran dibaca?. Membaca Alquran saja tidak bisa menghasilkan uang. Juga tidak mendatangkan materi. 

Ada juga yang berpendapat untuk apa membaca Alquran dan menghapalnya. Padahal tidak paham bahasanya. Padahal kita yang mengaku iman harus mengetahui bahwa membaca Alquran saja sudah termasuk ibadah. Selain itu membaca Alquran juga termasuk zikir kepada Allah Swt. Karena hakikatnya semua zikir pusatnya adalah dari Alquran. 

Sedangkan fungsi dari Alquran mengapa harus dihapalkan?.  Hikmahnya bagi  para penghapalnya adalah agar selalu nderes Alquran-nya. Karena bagi orang yang tidak hapal kadang malas untuk membacanya dan tidak ada tuntutan untuk nderes secara pribadi. Sehingga membaca Alquran saja berat. 

Adapun tingkatan yang lebih tinggi dari keduanya adalah tingkatan orang yang  hapal Alquran dan paham dengan isi Alquran sebagaimana riwayat : 

من أراد أن يتكلم مع الله فليقرأ القرآن

Artinya : Barangsiapa yang ingin berkomikasi dengan Allah maka bacalah Alquran. 

Kiai Hamid Pasuruan dulu kalau ada tamu, tamunya disuruh untuk menghapal Alquran. Saat itu ada yang tanya kepada Mbah Hamid, mengapa tamu-tamunya diperintah menghapal Alqruan?. Beliau dawuh, jika ada orang yang menghapal Alquran, tapi belum khatam dan didahului datangnya mati, maka dia sudah dicatat sebagai orang yang memperhatikan Allah, sebab yang dihapalkan adalah firman Allah. Di akhirat nanti orang tersebut tinggal bersaksi, bahwa dia telah memperhatikan kalam-Nya melalui hapalan Alquran. 

Orang yang hapal Alquran harus hati-hati.  Jangan sampai niatnya agar diundang orang dan untuk mendapatkan uang. Niatnya harus karena Allah dan senang membaca Alquran agar disenangi Allah.

Ada tingkatan orang mukmin yang tinggi derajatnya yaitu : 

انما المؤمنون الذين اذا ذكر الله وجلت قلوبهم واذا تليت عليهم اياته زادتهم ايمانا 

Yaitu orang mukmin yang ketika disebutkan Alquran hatinya tersentuh. Apabila dibacakan ayat surga hatinya merasa gembira. Sebaliknya jika mendengar ayat siksa maka menjadi susah dan sedih. Hatinya selalu tersentuh ketika dibacakan Alquran. 

Nabi ketika sholat sendirian dan disaksikan oleh Sayidah Aisyah. Beliau membaca ayat Alquran banyaknya sampai 200 ayat. Sesekali beliau seperti menangis. Sesekali seperti bergembira. Sesekali dengan bertasbih dan beristigfar. Mengapa demikian?. Karena beliau sangat tersentuh dalam membaca Alquran. 

Kita tidak mungkin bisa meniru seperti Nabi dalam hal mendalami makna Alquran. Tapi minimal ketika membaca Alquran benar-benar mengangan-angankan maknanya. Walaupun terkadang belum tersentuh hati kita, tapi tetap membaca Alquran dengan niat sebagai zikir. 

Orang yang membaca Alquran ibarat sedang bercengkrama dengan Allah karena membaca kalamnya. Dan orang yang membaca kalam-Nya disukai oleh Allah. 

2- Perintah Sholat Sebagai Pencegah Perbuatan Tercela dan Mungkar

Mengenai hal ini Nabi pernah bersabda : 

من لم تنهه صلاته عن الفحشاء والمنكر لم يزدد من الله إلا بعدًا

Ketika ada orang yang sholat tapi masih melakukan kemaksiatan atau kemungkaran berarti sholatnya belum sempurna. Siapakah mereka?. Yaitu kita semua. Sholat kita yang 5 menit, yang ingat Allah hanya 1 menit. Terkadang malah tidak ingat sama sekali. Walaupun begitu sholat harus terus dilatih agar menjasi sholat yang sungguh-sungguh dan sempurna sehingga dapat mencegah dari kerusakan dan kemungkaran. 

Contoh sholatnya Nabi adalah sholat yang sempurna. Beliau ketika sholat terkadang "digannggu" konsentrasinya oleh Sayidah Aisyah. Tapi beliau tetap khusyuk. Disebutkan dalam hadis bahwa Nabi ketika sholat: 
سجد وجهي وسمعي وبصري ومخي وعصبي وشعري

Ya Allah ketika aku bersujud, bersujud juga mataku, pendengaranku, wajahku, otot pergelanganku sampai rambutku ikut bersujud. Nabi ketika bersujud seluruh anggota badannya  ikut bersujud. Hal itu karena aktivitas yang paling disenangi Nabi adalah sholat. Bahkan Istirahatnya Nabi adalah sholat. 

Apakah kita bisa seperti itu?. Mungkin tidak bisa, mungkin bisa. Tapi yang terpenting adalah terus melakukan sholat walaupun sudah khusyuk atau belum khusyuk. 

Diantara waktu yang mudah untuk khusyuk adalah sholat di jam 3 malam. Caranya agar bisa bangun adalah tidurnya diawali. Sehingga bisa bangun dan ketika sholat malam bisa khusyuk. Di dalam salah satu sholawat ada syiiran : 

لولاك يا زينة الوجودِ # ما طاب عيشي ولا وجودي
ولا شجاني وميض برقٍ # ونقرُ دفٍّ وصوتُ عودِ

Artinya : Ya Rasulullah andaikan tanpa Engkau aku tidak bisa wujud. Andaikan tanpa engkau aku tidak bisa menikmati sujud dan rukukku. Andaikan engkau tidak ada, aku tidak bisa mensyairkan tembang sujud kepada Allah. 

Orang-orang yang dekat dengan Allah ketika sholat saking nikmatnya seakan-akan menyanyi bersama Allah. Seperti halnya lelaki dan perempuan yang saling mencintai maka akan saling memuji dengan musik dan lagu-laguan. Mereka yang dekat dengan Allah menikmati sholatnya. 

Sholat sangat penting karena dalam hadist disebutkan bahwa yang pertama dihisab adalah sholat kita. Sedangkan sholat tujuannya adalah untuk berzikir kepada Allah. Dalam Alquran kita sudah dijelaskan bahwa ciri-ciri umat Nabi Muhammad adalah senang bersujud kepda Allah sampai wajahnya bersinar karena atsar atau bekas sujud dari sholat. 

3- Perintah Zikir Kepada Allah

Di dalam tafsir munir lafadz "ZikruAllahi Akbar" diartikan: 

ذكر الله اياكم اكبر من ذكر كم اياهم

Bahwa ingat-Nya Allah kepada kita lebih besar daripada ingat kita kepada Allah. Perhatian Allah kepada kita lebih besar daripada ingat kita kepada-Nya. Terkadang orang kliru memahami  zikruAllah dengan ingat kepada Allah adalah sesutu yang agung. 

Makna yang diuraikan dalam tafsir munir jika kita pikirkan sangat masuk akal. Allah selalu memberi perhatian besar kepada kita. Sementara kita ingat Allah sangatlah sedikit. Hanya pada waktu-waktu tertentu seperti dalam sholat. Itupun masih banyak lupa nya. Allah ingat kepada kita sepanjang masa sementara kita hanya 1 sampai 2 menit. 

Semua Kebutuhan kita diperhatian oleh Allah. Sehingga kita harus bersyukur. Dalam hikam disebukan bahwa orang yang berzikir ada 3 tingkatan yaitu : 

1- Zikir kepada Allah  agar diperhatikan Allah. Berupaya zikir agar Allah memperhatikan  kita. Sejatinya orang yang berzikir adalah orang yang mendapat Fadhol Allah. Mengikuti majelis zikir adalah karena mendapat Fadhol dari Allah. 

2- Orang yang Senang Zikir sampai disandingkan dengan Allah yaitu tingkatan para wali  (Zakiran Bih). Walaupun zikirnya adalah pemberian dari Allah. Tapi mereka menjadi kekasih-Nya dan disandingi oleh Allah. Mereka sangat diperhatikan Allah dan dipamerkan. 

3- Orang yang dijadikan Allah Zikir yang namanya langsung diambil oleh Allah (Zakrian Indahu). Orang yang ditarik langsung oleh Allah. Contohnya adalah Nabi Muhammad Saw. Namanya disebut dalam syahadat. Siapakah yang menyandingkan dengan Allah, adalah Allah sendiri. 

Inilah bukti bahwa makna zikrullahi akbar bahwa perhatian Allah lebih besar daripada perhatian kita kepada-Nya. 

Selain 3 hal itu, ayat tersebut menegaskan bahwa Allah mengetahui apa yang kita kerjakan. Sehingga kita patut bersungguh sungguh dalam membaca Alquran, sholat dan berzikir. 

- Disarikan dari Pengajian Al-Hikam setiap Malam Selasa oleh KH. M Hasyim Yusuf di Masjid Bumi Damai Al-Muhibin Tambakberas Jombang Juni 2024. 

Ngaji Hikam Hikmah Ke-84 & 85

Ngaji Hikam Hikmah Ke-84 & 85

Syekh Ibnu Athaillah berkata dalam kitab Al-Hikam nya:

قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ بْنُ عَطَاءِ اللهِ السَّكَنْدَرِيُّ : مَتَى رَزَقَكَ الطَّاعَةَ وَالْغِنَى بِهِ عَنْهَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ أَسْبَغَ عَلَيْكَ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً 
Artinya: “Ketika engkau diberi anugerah ketaatan, dan engkau memandang Allah sang pemberi nikmat, dan bukan memandang pada taat. Maka ketahuilah sesungguhnya Allah telah mencurahkan seluruh nikmat-Nya yang lahir dan batin”. 
Kenikmatan yang sempurna dan agung adalah kenikmatan yang menjurus kepada ketaatan kepada Allah. Umumnya orang menganggap bahwa kenikmatan jika uangnya banyak, rumahnya bagus, badannya sehat, tokonya laris, dan isterinya cantik. Pendeknya Segala hal yang berkaitan dengan kenikmatan jasmani kita anggap sebagai sebuah kenikmatan. 

Padahal kenikmatan yang hakiki sesungguhnya adalah kenikmatan yang menjurus kepada ubudiyah kepada Allah Swt. Apa itu kenikmatan yang hakiki?. Apabila kita diberikan nikmat ketaatan kepada Allah berupa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. 

Ketaatan contohnya seperti istiqomah mengaji malam selasa. Rajin berjamaah, nderes Alquran, rajin wiridan thoriqahnya. Seseorang yang diberi satu jenis ibadah yang dilakukan secara istiqomah, hal itu lebih baik daripada dua ribu karomah. Dikatakan, "Al-Istiqomah khoirun min Alfai karomatin". 

Kebanyakan kita jika mengamalkan satu amalan agar cepat-cepat mendapat karomah. Wiridan dengan guru yang hebat-hebat tapi tujuannya agar mengetahui hal-hal luar biasa. Karomah adalah hal luar biasa yang diberikan kepada para wali. Sedangkan bagi para nabi disebut mukjizat.

Karomah diantara contohnya adalah : dapat melipat waktu, dapat melipat jarak. Sholatnya di Masjidil haram dalam satu kedipan Dsb. Jika ziarah wali dapat bertemu dengan wali yang diziarahi. Padahal karomah-karomah tersebut semuanya adalah tuntutan nafsu. Sedangkan tuntutan Allah adalah agar kita beribadah secara istiqomah. Yang  istiqomah tersebut lebih utama daripada 2000 karomah. 

Ada juga karomah bisa bertemu bidadari seperti Syeku Junaid. Padahal bertemu bidadari di dunia ini sangatlah tidak enak. Saat mondok dulu saya dapat cerita bahwa Kiai Makhrus Ali pernah mimpi bertemu bidadari. Setelah mimpi kemudian didekati Bu Nyai. Beliau sampai muntah-muntah. Ternyata tidak sama wanginya perempuan surga dan aroma perempuan dunia. Bidadari diceritakan dalam hadist-hadist jika meludah di satu kali, maka semua kali di dunia menjadi wangi. 

Semua karomah-karomah yang disebutkan di atas keutamaannya tidak  lebih utama dibanding 1 amalan yang istiqomah. Abah Djamal itu memiliki amalan istiqomah membaca Dalail. Saking istiqomahnya membaca Dalail, jadi ketika kelupaan atau ada uzur, maka membacanya diqadla.

Pernah satu ketika umrah bersama saya, karena agenda umrahnya padat sampai wirid dalail-nya terlewatkan dan sambat, "Dalail ku korat-karit". Ketika pulang semua wirid Dalail itu diqadla. Orang yang saking istiqomahnya. Meninggalkan perkara sunah, seperti meninggalkan perkara wajib sampai diqadla. 

Pertamyaannya adalah kenapa 1 ibadah istiqomah bisa mengalahkan 2000 karomah?. Karena ibadah istimqomah yang menuntut adalah Allah Swt. Sementara karomah adalah tuntutan nafsu. 

Amal yang sedikit yang istiqomah lebih baik daripada banyak tapi tidak istiqomah. Belajar atau mutholaah yang baik adalah yang sebentar tapi istiqomah setiap hari. Hasil pintarnya yang istiqomah berbeda dengan yang belajar banyak hanya saat ujian. Karena sebaik amal adalah yang sedikit tapi istiqomah. 

Imam Ghazali menggambarkan bahwa amal yang banyak tidak istiqomah ibarat air 1 tong yang diguyurkan ke batu bata. Air batanya bersih tapi tidak ada efek setelah itu. Sebentar lagi akan kotor kembi. Berbeda dengan apabila tongnya dilubangi dan diberi air penuh. Setelah itu dibawahnya diberi batu bata. Kemudian batu bata akan berlubang karena terus menerus diairi dari tong. Maka akan ada atsar pada batu bata tersebut. 

Begitu juga amal apabila istiqomah dan dilakukan terus menerus. Atsarnya sangat besar di dalam hati. Sama halnya dengan batu bata tersebut. Itulah sedikit amal tapi bisa istiqomah. 

Oleh karena itu apabila ingin memulai amal jangan terlalu banyak dulu. Semisal mau merutinkan mengamalkan membaca Alquran. Jangan langsung 1 juz. Besoknya tidak baca. Mulai dari 5 halaman dulu. Terus sampai 3 atau 5 tahun. Kalau lupa diqadla. Sampai amalan itu mapan dan istiqomah baru ditambah. Begitu juga ketika belajar shalat lail. Sholat witir misalkan yang bilangannya 1 sampai 11 rokaat. Maka jangan langsung 11 rokaat. Mulai dari satu rokaat saja dulu. Seperti Sahabat Abdullah bin Abas yang tidak pernah sholat witir lebih dari 1 rokaat. Sampai beliau tidak meninggalkan witir walaupun dalam perjalanan. Jika ikut Sayidina Abu Bakar maka waktunya diakhir malam setelah tidur. 

Berbeda dengan Sayidina Umar beliau witirnya di awal sebelum tidur. Tepatnya setelah bakdiyah isyak langsung witir. Jika malamnya bangung kemudian tahajud. Walaupun tidak afdal apa yang dilkukan Sayidina Umar ini lebih mungkin terlaksana. Daripada mencari yang afdal tapi tidak terlaksana dan tidak istiqomah.

Dulu ketika di pondok saya  termasuk yang sulit dibangunkan. Jika tidak Abah yang bangunkan sulit untuk bangun. Sampai Abah ketika saya berangkat mondok diijazahi agar membaca Laqadja 3x. Dan meminta kepada Allah dibangunkan pada jam yang diinginkan. Seringkali dituruti oleh Allah. Pertanyaannya kalau sudah bangun?. Apakah hanya bangun?. Buang khajat saja?. Atau sholat?. Karena terkadang yang tidak terima ketika kita bangun malam adalah nafsu. Dan setelah kita dibangunkan oleh Allah Swt sholat atau tidak diserahkan kepada nafsunya masing-masing.

Amal taat yang istiqomah diatas adalah amal-amal lahir, sehingga apabila badan kita diberi kekuatan melakukan ketaatan dan meninggalkan larangan maka itu adalah sebagian dari nikmat lahiriyah yang hakiki. 

Meninggalkan maksiat juga perkara yang berat sampai apabila mampu melakukannya secara hukum syar'i maka mendapat pahala. Karena yang namanya haram adalah apabila dilakukan mendapat dosa dan jika ditinggalkan  mendapat  pahala. 

Oleh karena itu dalam konsep ushul fiqih nya Kiai Sahal barang mubah adalah perkara  yang dapat mengundang pahala karena meninggalkan maksiat. Contoh barang mubah adalah ngomong-ngomong sama temannya dan ngopi-ngopi. Yang apabila dia keluar malah bermaksiat.

Saking beratnya meninggalkan barang haram sampai kemubahan bisa bernilai  mendapat pahala jika tujuaanya meninggalkan keharaman. Begitu juga anak pondok yang di rumah yang terkadang tidur saja. Yang penting sholatnya dijaga. Terkadang itu adalah langkah daripada keluar malah bermaksiat. Melakukan perkara mubah untuk meninggalkan keharaman. 

Apalagi meninggalkan maksiat mata dan mulut yang sangat berat. Sehingga apabila kita dapat meninggalkan maksiat dan melakukan ketaatan itu adalah suatu kenikmatan lahir yang sempurna. Kesempurnaan yang lain adalah apabila batin kita tidak bergantung pada amal taat tersebut dan hanya bergantung kepada Allah. Secara dzohir dapat melakukan taat dan secara batin tidak bergantung pada ketaatan tersebut melainkan hanya bergantung kepada Allah Swt. Jika bisa taat saja maka kesempurnaanya sebagian. Tapi jika ditambah dengan hatinya  tidak bergantung pada amal itu untuk mencapai cita-citanya dan hanya bergantung pada Allah maka itulah kenikmatan yang sempurna. 

Seorang ada yang pada tingkatan abror dan ada yang pada tingkatan shidiqin. Abror adalah orang yang amalannya kebanyaakan amal lahiriyah dengan cita-cita selamat dari neraka dan masuk surga. Yang untuk mencapai cita-cita tersebut tidak bergantung pada ketaatannya. Dan hanya bergantung pada Allah Swt. 

Mengapa begitu?. Karena suatu amal banyak penyakitnya. Sholat kalaupun sudah mampu khusyuk belum tentu bisa ikhlas dari penyakit ujub, riya, sumaah dsb. Karena menjaga ikhlasnya amal lebih berat daripada amal. Amal ikhlas sudah berat tapi menjaga konsistensi amal lebih berat karena harus dijaga sampai mati. 

Terkadang seorang sudah beramal dan ikhlas. Tapi 20 tahun kemudian cerita. Oleh karena itu cukuplah bergantug kepada Allah dengan berdoa yang diajarkan Nabi kepada Sayidah Aisyah: 

اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ

Artinya : Ya Allah kami minta ridla dan surga dengan rahmad-Mu bukan karena amalku, dan jauhkanlah kami dari murkamu dan neraka dengan rahmad-Mu bukan dengan ibadahku. Karena sesungguhnya kita hanya bisa : 

لا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

Kita bisa istiqimah ngaji karena pertolongan Allah. Tanpa pertolongan-Nya tidak akan bisa. Juga amal-amal seperti jamaah, shodaqah, memberi konstribusi dsb. Oleh karena itu dalam menggapai surga-Nya dan menjauhi neraka-Nya. Kita tidak bisa apa-apa karena yang memasukan bukan amal tapi  Allah. Amal hanya alamat dan sebabnya.

Santri juga seperti itu, jangan bergantung pada mempengnya sendiri. Mempeng nya harus. Tapi dalam hal keberhasilan ilmu harus menangis minta kepada Allah Swt. Sudah mempeng belum pasti punya ilmu yang manfaat dan pintar. Mempeng harus dilakukan tapi  wushulnya ilmu harus bergantung kepada Allah. 

Punya toko dapat laba. Jangan bergantung pada toko dan laba. Semua hanya sabab. Karena yang memberi adalah Allah. Usaha yang tawakalnya sungguh-sungguh adalah petani. Begitu sudah tebar benih ya sudah. Mereka tawakal. Sampai Nabi dawuh, "Rezeki yang utama adalah dari pertanian, tapi 90% rezeki dari perdagangan". 

Mengapa pertanian utama rezekinya?. karena orangnya tawakal-tawakal. Dan orang tani hukumnya fardlu kifayah. Mereka Menjadi lantaran hidupnya orang banyak. Sampai digambarkan Sayidina Umar bahwa orang yang tawakal adalah orang yang menyebarkan benih kemudian tawakal. Kita hidup di dunia ini juga seperti petani. Apa yang kita tanam  akan kita panen di akhirat. 

من كان يريد حرث الآخرة نزد له في حرثه

Siapa yang mengharap tanaman akhirat maka dia didunia diberi dan diakhirat ditambah. Yaitu orang yang amal dengan ikhlas dan bergantung kepada Allah. Sebaliknya siapa yang mengharap tanaman dunia juga akan diberi tapi di akhirat tidak diberi apapun.

Oleh karena itu Nabi menggambarkan bahwa dunia ini tidak sebanding dengan separonya sayap lalat nilainya di sisi Allah. Akan tetapi karena disisi Allah rezeki itu tidak ada nilainya. Sehingga digambarkan dengan separo lalat pun tidak seimbang sehingga orang kafir diberi banyak. 

Allah membalas kebaikan yang ada di dunia. Oleh karena itu orang-orang non muslim yang melakukan kebaikan di dunia mendapat balasan atas kebaikannya langsung di dunia ini. Tapi khusus bagi orang mukmin balasnya dua kali. Sekarang dibalas di dunia dan besok di akhirat juga dibalas. Bahkan terkadang karena kebijakan Allah semua balasan diberikan di akhirat. Atau di dunia diberi sedikit dan sisanya diberikan di akhirat yang banyak. 

Dunia hanyalah bujukan semata. Dunia adalah yang membohongi karena tidak lepas dari harta, kedudukan dan pengaruh. Kedudukan di dunia membuai. Dulu kita memiliki Presiden Sukrno yang namanya harum pada tahun 1945-1965. Bahkan mengispirasi negara-negara Afrika untuk merdeka. Dan bisa menyaingi rusia. Tapi setelah jatuh dari kedudukannya biau diasingkan. Kita juga memiliki presiden yang kuat yaitu Bapak Suharto selama 32 tahun menjabat sebagai presiden. Tapi dapat dilihat pada akhir hidupnya. 

Begitu juga harta yang bisa dinikmati darinya adalah yang bisa dijangkau seperti makanan dan minuman yang apabila terus dituruti akan berefek pada kesehatan. Oleh karena itu orang dulu pintar menjaga harta. Apabila mendapat rezeki banyak  dirupakan aset yang tidak turun nilainya. Dijelaskan dalam kitab Shoheh Bukhari banwa menanam tananaman yang bisa dinikmati orang lain dan anak cucu adalah bagian dari shodaqah. Bisa mangga, durian, nangka, dsb.

Siapapun yang menikmati tanaman itu menjadi shodaqahnya yang menanam. Sampai hewan-hewan bahkan yang tidak hidup karena dia memproduksi oksigen. Tapi investasi ini tidak pernah dinilai sebagai investasi yang tinggi. Sehingga apabila diberi Allah rezeki banyak tidak dihambur-hamburkan dan berpikir mungkin itu adalah untuk anak. Supaya tidak habis dirupakan aset seperti tanah.  Uangnya sedikit, tapi banyak asetnya. 

Ibu Nyai Churriyah Fattah wafat tahun 2000 dan tirkahnya yang berupa emas tidak ada segenggam tangan. Padahal uangnya banyak dan berkesempatan membeli itu. Kok tahu?. Karena yang membeli seluruh tanah di Al-Muhibin, Fattah Hasyim, dan Sambong semua adalah Ibu Nyai Churriyah. Begitu wafat secara finansial uangnya sedikit tapi asetnya dimana-mana. 

Apalagi punya suami Kiai Djamal yang alim dalam melanggengkan aset tersebut. Dimana tanah yang dibangun pondok tidak boleh diwaris tapi diwakafkan. "Sing dadi pondok gak usah diwaris, ben dadi jariyahe Ibukmu". Kata Abah saat itu.

Uang apabila di taruh saja di bank itu sudah habis karena terkena inflasi atau Penurunan mata uang. Abah ketika membeli tanah Muhibin ini kalau tidak salah tahun 1985-1990 harganya hanya Rp. 60.000 per meter. Sekarang di sebelah Muhibin saya membeli tanah harga per meternya 2.500.000. 

Kadang punya rezeki banyak dihamburkan dibuat rumah besar. begitu wafat dibuat royokaan dan disengketakan sampai tidak ada yang menempati dan rusak sendiri. 

  الدنيا تغُرُّ وتفرُّ وتمُرُّ

Dunia datang hanya menipu, lari dan hanya lewat saja. 

Kita apabila lahirhya bisa melakukan amal dan hatinya tidak bergantung pada amal tersebut dan bergantung hanya kepada Allah maka itu adalah tanda kita diberi kenikmatan yang sempurna. 

Sesungguhnya hanya dua hal yang diminta oleh Allah dari hamba-hamba-Nya; yaitu lahir (badan)-nya menjalankan perintah Allah, dan batin (hati)-nya bergantung kepada Allah. Barang siapa yang telah diberi keduanya, maka Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya. 
 
قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ بْنُ عَطَاءِ اللهِ السَّكَنْدَرِيُّ : خَيْرُ مَا تَطْلُبُهُ مِنْهُ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ 

Artinya: “Sebaik-baik sesuatu yang engkau minta dari Allah, adalah sesuatu yang diminta oleh Allah darimu”

Sebaik-baik sesuatu yang engkau minta kepada Allah adalah yang diminta Allah darimu, seperti; istiqamah dalam beribadah, ikhlas, khusyu' dan lain-lain. Ini semua lebih utama daripada permintaanmu kepada Allah untuk memenuhi keinginan nafsumu, baik nafsu dunia maupun nafsu akhirat.
Syekh Abul Qasim Junaid Al-Baghdadi pernah berdoa: “Ya Allah, jadikan keinginanku sebagaimana yang Engkau inginkan. Dan janganlah Engkau jadikan keinginan-Mu, apa yang aku minta dari-Mu”. 

Kita semua boleh meminta apapun kepada Allah asalkan yang baik-baik. Misal minta, "Ya Allah jadikanlah hasil panen saya bagus". Boleh, tapi harus diteruskan, "Untuk bekal ibadah kepad-Mu". Atau meminta badan sehat dan akal cerdas, tapi yang baik diteruskan agar bisa ibadah kepada Allah. Begitu juga doa meminta kesembuhan agar sehat dan kuat. Bagus tapi yang baik ditambah untuk ibadah kepada Allah. Semua itu boleh dimintakan kepada Allah walaupun sifatnya adalah khududun nafsi atau kepentingan nafsu dan duniawi. 

Jika permintaan akhirat seperti selamat siksa kubur, selamat dari neraka, dan masuk surga semua itu juga tuntutan nafsu. Baik yang diniawi maupun yang ikhrawi.  

Akan tetapi meminta yang baik adalah yang dituntut Allah yaitu bisa istiqimah, iman, takwa, ikhlas, menjadi orang sholeh. Sampai doanya : 
اللهم اعطني محبتك ومعرفتك

Mahabah dan makrifat adalah tuntutan Allah. Juga doa yang diajarkan Abah Djamal kebanyakan adalah doa yang bukan diminta oleh nafsu tapi yang diminta oleh Allah. 

Lalu apakah boleh meminta atau berdoa dengan tuntutan nafsu?. Boleh tapi harus ditambah untuk beribadah kepada Allah Swt. Oleh karena itu apabila kita punya keinginan mintalah kepada Allah dan ditambah dengan apa yang diinginkan Allah dari kita. Sebaik-baik doa adalah doa yang diminta Allah dari kita. (*)

- Disarikan dari Pengajian Al-Hikam setiap Malam Selasa oleh KH. Mohammad Idris Djamaluddin di Masjid Bumi Damai Al-Muhibin Tambakberas Jombang 27 Mei 2024. 
 



Ngaji Hikam Bab Hawa Nafsu

Ngaji Hikam Bab Hawa Nafsu

Syekh Ibnu Athaillah al-Syakandari di dalam kitab Al-Hikam-nya menjelaskan satu hikmah tentang hawa nafsu bahwa :

لا يخاف عَلَيْكَ أنْ تَلْتَبِسَ الطُّرُقُ عَلَيْكَ؛ وَإنَّمَا يُخَافُ عَلَيْكَ مِن غَلَبَةِ الهَوَى عَلَيْكَ

Artinya ; “Bukan kebingungan jalan yang dikhawatirkan dari dirimu, akan tetapi yang dikhawatirkan adalah menangnya hawa nafsu atas dirimu.” 

Di dalam syarah kitab Al-Hikam dijelaskan bahwa hal yang dikhawatirkan dari kita bukanlah kebingungan mencari jalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebab jalan menghamba kita kepada Allah sudah jelas dan telah ada ilmu syari’at yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Akan tetapi sesungguhnya yang dikhawatirkan adalah menangnya hawa nafsu atas diri kita dengan cara mengajak kita pada ‘ujub ketika beramal atau riya’, lebih mengutamakan berbuat maksiat dan tidak mensyukuri nikmat, serta merasa bersedih saat dilanda cobaan.

Perjalanan kita menuju Allah seperti kita sedang mengendarai mobil. Kita menjadi lambat sampai pada tujuan karena banyak memperhatikan hal-hal yang di kanan dan kiri saat berjalan. Begitu juga perjalanan menuju Allah tidak bisa sampai dengan cepat karena hawa nafsu menguasai kita. Sebulan penuh kita didik Allah di Madrasah Ramadan dengan kurikulum yang luar biasa sempurna. Sehingga kita keluar dari Ramadan menjadi hamba yang mampu mengalahkan hawa nafsunya. Sekarang ketika syawal hawa nafsu itu mulai menganggu kita lagi. Oleh karena itu kita harus waspada dengan nafsu kita masing-masing. 

Keadaan murid atau salik thariqat tidak bisa dihindarkan dari 4 hal yaitu ; (1) Al-Thaat, (2) Al-Maksiat, (3) Al-Nikmat, (4) Al-Baliyat. Semua manusia pasti mengalami 4 keadaan tersebut. Terkadang kita taat, terkadang juga maksiat, terkadang mendapat nikmat, dan juga kadang diberikan baliyat atau ujian. Sehingga menurut Syekh Ibnu Athaillah, beliau tidak khawatir jika Murid akan tersesat karena mengalami 4 hal tersebut, sebab ilmunya sudah jelas. 

Orang yang melihat Alquran, Hadist dan petunjuk-petunjuk Mursyid maka akan menemukan bagaimana kita saat mengalami 4 hal tersebut. 

Pertama saat kita berada dalam keadaan taat. Maka  yang harus dilakukan adalah meyakini bahwa taat yang kita lakukan bukanlah usaha dan upaya kita, akan tetapi merupakan "mihnah" atau anugerah Allah Swt. Sehingga dengan ketaatan tersebut kita bisa sampai kepada tujuan kita yaitu ridla Allah Swt. Hal itu sebab kita tidak mengklaim diri sendiri tapi dikembalikan kepada Allah Swt. 

Sikap kedua jika melakukan ketaatan adalah kita harus mengikhlaskan amal tersebut. Hal ini sesuai dengan Alquran : 

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ 

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Selain mengembalikan kepada Allah dan ikhlas, tatakerama kita saat taat adalah : 

ما اصابك من حسنة فمن الله

Apapun yang menimpa kita yang baik-baik adalah dari Allah Swt. 

Aturan dan petunjuk-petunjuk yang demikian ini sudah jelas dalam Alquran dan hadist. Oleh karena itu yang dikhawatirkan dari ketaatan-ketataan tersebut adalah adanya hawa nafsu yang masuk ke dalam ketatan tersebut. Bagaimana cara hawa nafsu masuk?. Yaitu kadang-kadang muncul sifat ujub, riya', sum'ah saat melakukan taat. 

Terkadang pertama yang muncul dalam ketaatan adalah ujub, serta memamerkan ketaatan tersebut. Mbah Yai Djamal sering mewanti-wanti ketika jamaah Al-Hikam berada di Makah semisal mendapat nikmat bisa mencium Hajar Aswad. Abah dawuh, "Tidak usah dicerita-ceritakan". 

Hal ini dilatatbelalamgi oleh satu cerita ketika saya dan isteri mendampingi beliau. Lalu datang satu jamaah. Dia datang langsung mencium tangan saya dan Mbah Yai Djamal  kemudian cerita bisa mencium Hajar Aswad secara bolak-balik. Disekeliling orang tadi banyak jamaah yang sepuh yang sebenarnya juga ingin. Orang tersebut bisa mencium hajar aswad karena desak-desakan. Hal yang demikian dapat mengurangi kemabruran haji, karena membuat yang lain merasa iri ingin mencium hajar aswad tapi terbatas oleh fisik. Sampai Mbah Yai dawuh yang demikian tidak usah dicerita-ceritakan. 

Hal ini sama seperti yang dijelaskan dalam kitab Taklim bahwa seorang santri seharusnya tidak makan di warung. Kenapa?. Karena yang lewat depan warung ada orang fakir dan miskin yang memiliki selera sama ingin ke warung tersebut tapi tidak bisa karena tidak punya uang. 

Satu ketika akan haji Abah sowan ke Kiai Djalil. Pada saat itu Kiai Djalil dawuh, "Kiai Djamal saat musim haji wali-walinya Allah itu kumpul". Itulah diantara perkara yang menjadikan ibadah haji menjadi ibadah yang istimewa. Sehingga ketika bertemu dengan orang yang tampak luarnya biasa-biasa janganlah terlalu. 

Saya ingin membuktikan dawuh Kiai Djalil tersebut dengan berdoa semoga ditemukan dengan walinya Allah. Saat thowaf saya ketemu orang besar, hitam, dan buta. Karena buta saat thowaf dia seperti nabrak-nabrak jamaah lain tapi sama sekali tidak menabrak. 

Setiap ditabrak orang yang keluar dari lisannya dalah "Ya Lathif". Saya yang disebelahnya mencium bau yang sangat harum.  Walaupun saya tidak tahu dia wali atau bukan, tapi saya meyakini saja bahwa doa saya diijabah dengan bertemu orang tersebut. Akhirnya saya minta doa. Dan beliau berdoa serta tersenyum. 

Satu ketika saya thowaf ingat Abah. Lalu ingin bertemu wali. Saya tidak tahu apakah itu wali tapi dalam hati saya meyakini bahwa orang tersebut wali. Orangnya putih sudah sepuh. Tapi saat thowaf lancar. Saat thowaf yang dibaca, "LabaikaAllahuma labaik, la ujuba, wa la riya'a wa la sum'ata". Terus seperti itu yang dibaca. 

Satu putaran saya kalah dan orang itu hilang. Saya mengatakan kepada anak saya itulah orang yang mengajarkan doa yang penting kepada kita bahwa mungkin ibadah kita ada ujubnya, ada riya'-nya dan ada sum'ah-nya. Sehingga diajari doa tersebut. 

Ujub adalah sifat kagum dengan dirinya sendiri. Sedangkan riya' adalah sifat ingin dilihat orang. Dan Sum'ah adalah sifat ingin didengar orang. Yang kesemuannya tujuannya agar mendapatkan penghormatan. Nah, yang dikhawatirkan oleh Syekh Ibnu Athailah adalah hawa nafsu yang masuk dalam ketaatan berupa ujub, riya', dan sum'ah.  

Kondisi kedua seseorang atau para murid  adalah maksiat.  Baik maksiat yang jelas maupun tidak jelas. Akan tetapi maksiat ini juga dapat menjadikan kita diridlai oleh Allah Swt. Sebaliknya maksiat juga dapat menjadi penghalang menuju Allah. 

Ketika maksiat Ilmu dalam Alquran dan haditsnya jelas yaitu agar segera taubat dan istigfar. Dan semua itu tidak dikhawatirkan oleh Syekh Ibnu Athaillah. Akan tetapi yang lebih bahaya adalah ketika hawa nafsu masuk dalam maksiat tersebut. Yaitu, "Tutsirul al-Maksiat". Yaitu terus menerus melalukan maksiat karena menganggap maksiat tersebut sepele. Sampai Nabi memperingatkan: 

لاصغيرة مع الاصرار ولا كبيرة مع الاستغفار

Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus. Yang ditakutkan oleh Syekh Ibnu Athaillah adalah ketika kita melakukan maksiat, Kemudian Nafsu menyelinap sehingga kita maksiat terus menerus dilakukan. 

Tidak ada dosa besar jika disertai istigfar setelahnya. Oleh karena itu Mbah Yai Djamal menerangkan setelah istigfar, seharusnya disertai Nadm atau menyesali dosa yang dilakukan. Dan al-Iqla' yaitu berjanji tidak melakukan maksiat yang sama. 

Kondisi Salik yang ketiga adalah nikmat. Dalam keadaan nikmat pun kita bisa sampai kepada ridla-nya Allah Swt. Bagaimana caranya?. Adalah dengan bersyukur kepada Allah dan jangan kufur nikmat atau mengkufuri nikmat tersebut. Namun yang patut diwaspadai adalah ada hawa nafsu yang masuk dalam nikmat tersebut yaitu : "Istqalah" atau menganggap bahwa nikmat yang kita dapat dari Allah sangat kecil. Padahal sebenarnya nikmat yang kita peroleh sudah luar biasa. 

Kebanyakan orang menganggap nikmat jika mendapat uang 100 juta dadakan. Padahal ditakdirkan Allah bisa ibadah. Ada yang dimakan walaupun sederhana itu adalah nikmat yang luar biasa dari Allah. 

Menganggap nikmat dari Allah adalah kecil itulah hawa nafsu yang menjadikan nikmat itu menjauh dari diri kita sehingga kita tidak sampai kepada Allah. Sehingga dalam Alquran, Allah berfriman:

وان تعدوا نعمة الله لا تحصوها 

Jika manusia menghitung nikmat Allah maka mereka tidak akan bisa menjangkaunya. Nikmat Allah diberikan kita dari mulai bangun, sampai akan tidur dan bahkan saat tidur. Kita tidak dapat menghitungnya. Hanya saja hawa nafsu menutup itu sehingga menganggap nikmat tersebut adalah biasa dan merupakan nikmat yang kecil. 

Keadaan Murid yang terakhir adalah mendapat Baliyat atau ujian dari Allah. Pasti semua orang pernah mendapat unjan dari Allah. 

Kemarin saat di Yaman kami menaiki Hiace ke Oman dan berziarah Ke Imran yang dalam Alquran diabadikan dalam surat Ali Imran. Yaitu ayah dari Siti Maryam kake Nabi Isa. Panjang makamnya sekitar 30 Meter. Dijelaskan oleh Juru kuncinya bahwa sejak memjumpai makam Nabi Imran ini panjangnya 30 meter. Tapi wa Allahu 'Alam apakah panjang beliau 30 atau tidak. Memang dalam kitab-kitab dijelaskan Nabi adam tingginya 60 hasta atau 30 meter. Mirip-mirip tersebut. 

Di atas gunung di daerah itu ada maqam Nabi Ayub. Tapi disana tidak boleh membaca tahlil. Akhirnya kami membaca Yasin. Nabi Ayub dalam sejarah diceritakan hidupnya penuh dengan ujian. Ada Nabi-nabi Allah yang melebihi pangkat dari Nabi yang lain yang disebut ulul azmi. Bukan karena hasil ibadahnya. Tapi hasil sabarnya dalam menghadapi ujian sehingga muncul perintah Allah: 

فاصبر كما صبر اولو العزم من الرسل 

Artinya : Bersabarlah kamu seperti kesabaran rasul-rasul ulul azmi. 

Sehingga ketika diuji yang harus ketika lakukan adalah bersabar untuk sampai Kepada Allah. 

Kita apabila disuruh milih jalan menuju Allah dari 4 keadaan ini pasti banyak yang memilih jalan nikmat. Padahal banyak juga yang terpeleset saat diberi nikmat. Kenapa?. Karena menganggap kecil nikmat tersebut. Padahal banyak juga yang sampai kepada Allah melalui ujian. 

Abah Djamal pernah cerita terkadang ada murid bertemu dengan guru mursyid yang mempertemukan adalah karena mendapat Baliyat atau ujian. Dan didalam baliyat hanya satu yang harus dilakukan adalah sabar. 

Dalam ayat yang menyatakan "Inalilahi". Allah menyatakan bahwa pasti Allah akan menguji kita dengan sesuatu yang kecil. Yang tidak melebihi kemampuan kita.  Sehingga dalam menghadapi ujian ini kita diperintah sabar dan hal itu tidak dikhawatirkan. Karena yang dikhawatirkan adalah jika ada hawa nafsu masuk dalam baliyat tersebut yaitu berkeluh kesah, dan menggerutu. Atau tidak terima dengan cobaan tersebut. 

Oleh karena itu berkeluh kesah yang benar adalah berkeluh kesah kepada Allah. Akan tetapi kadang kita tidak berkeluh kesah jika ujiannya tidak dinaikan oleh Allah. 

Cobaan dapat menjadikan sampai kita kepada Allah jika kita bersabar. Dan yang perlu kita waspadai adalah adanya hawa nafsu di dalamya yaitu berkeluh kesah atas cobaannya. 

Imam Ghazali atau memerangi hawa nafsu yang masuk di dalam 4 kondisi tersebut. Bisa wajib, sunah, dan dianjurkan. Berhukum wajib jika mengajak kepada yang haram. Yaitu memerangi hawa nafsu. Bagaimana caranya adalah dengan melakukan 3 hal :
1- Dzikru Manaqibu Sholihin al-Mutaqadimin atau menyebut, membaca manaqib orang-orang sholeh sebelum kita sehingga muncul keinginan meniru mereka atau setidaknya membandingkan diri kita. 

Ketika di Yaman saya ziarah di Sayidil Habib bin Thohir bin Husain di Masileh Yaman. Dulu beliau tidak mau kembali ke Masileh karena sudah menjadi tokoh di Madinah. Kemudian diperintah oleh ibunya untuk pulang. Tapi ayah dan hatinya menghendaki menetap di madinah.

Akhirnya Rasulullah hadir langsung. Beliau dawuh, "Nak, Kamu di Madinah bagus, karena berada dengan saya, tapi kamu pulang ke Masileh jauh lebih bagus!". Akhirnya beliau pulang ke Masileh. Amalan beliau yang mashur adalah wirid:
يا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ      يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِين
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ     فَرِّجْ عَلَى الْمُسْلِمِينْ

Ada lagi yang saat kita akan ziarah yaitu Qasidah Salamullahi Yasadah mina ar-rohmani Yasakum. Beliau juga yang menulis kitab Sulam Taufiq yang dibaca rutin oleh Kiai Kholil Bangkalan dan Bu Nyai Khuriyah. Saat ziarah kami bertemu dengan cicitnya dan berkesempatan masuk ke Ma'bad atau tempat ibadah-nya. Bagi orang Tarim tempat ibadah orang sholeh lebih utama dari maqam-nya. 

Kami juga berkesmpatan masuk ke Rumah beliau. Seperti ndalemnya Mbah Yai Djamal tapi tingkat 3 dan warna putih. Rumah itu tidak di waris tapi diwakafkan. 

Untuk ziarah ke sana biayanya sekitar 50-an. Biaya itu tidak mahal karena Habib Abdullah al-Alawi al-Hadad mengatakan, "Siapapun orang yang ziarah ke Makam Zanbal / Tarim berapapun biayanya akan saya ganti". Tapi tidak langsung. Maksudnya akan datang dari arah yang tidak terduga. Sampai isteri saya kaget mengelurkan sekian. Tiba-tiba ada lagi. 

Di rumah Habib Thohir itu pada lantai ke-2 ada tempat duduk. Cicitnya dawuh di tempat duduk itu biasanya datuknya mewiridkan 25.000 tahlil. 25.000 sholawat dan 25.000 dan Allah, Allah. Cerita-cerita seperti inilah yang menurut Imam Ghazali mampu menarik kita berpikir kita berapa kali?. Oleh karena itu membaca atau mendengar atau menyebut cerita orang sholeh ini dapat membangkitkan semangat kita mujahadah. Sampai dikatakan:

عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة
Ketika manaqib orang-orang sholeh disebut turun rohmad Allah. Oleh karena sering-sering menceritakan para sholihin. Sehingga apabila orang tua kita menceritakan kepada anak-anaknya tentang orang sholeh adalah dalam rangka menurunkan rahmad. Padahal sekarang berperang dengan HP yang banyak menceritakan manaqib orang-orang fasik yang dapat menurunkan laknat. 

Pada lantai Ke-3 ada Ma'bad yang isinya hanya 2 sajadah. Cicitnya bercerita di sinilah datuk kami menghasbiskan waktu sholat dhuha  1 rokaat dengan 8 juz. Jika sholat malam di tempat ini 1 rokaat 10 juz. Inilah thoyil waqti atau melipat waktu. Sampai setiap malam ketika beliau masih hidup rumah itu terbang ke awan. Sampai tegangga-tetangganya mengetahui. Beliau mengatakan bahwa tidak ada satu jengkal pun tanah rumah saya yang tidak digunakan untuk khataman.  Inilah cara agar kita bangkit untuk mujahadah. 

cerita ini terdapat pada masa Habib Thohir. Lalu bagaimana para sahabat?. Dan seperti apa Rasulullah?. 

Saya pernah menyaksikan Habib Umar al-Hafiz sholat jamaah. Ngaji saya tidak pernah melihat wajahnya ditekuk. Terus senyum. Bahkan ada satu tamu tanpa antre. Nyelonong ke Habib Umar sambil menepuk-tepuk tubuh beliau. Beliau hanya tersenyum. Dan tidak diusir. Wajahnya membuat kita bangkit ingin melakukan ibadah. Ini baru cucu Rasulullah. Belum ketika memandang Rasulullah. Belum jika bertemu Allah Swt. 

2- Mujalasatus Sholihin yaitu sering duduk dengan orang sholeh. Di dalam Manaqib Habib Ali bin Husain al-Habsy bahwa yang paling berbahaya adalah duduk dengan Ahli Fulus. Yang paling bahaya adalah ketika duduk dengan orang yang di dalam pikirannya uang terus. 

3- Jangan Sembrono waktu kita terbatas demi kebahagiaan yang tidak terbatas. Dunia adalah hari yang pendek. sedangkan akhirat adalah hari yang panjang. Sehingga akan muncul semangat memerangi hawa nafsu. Semua terasa mudah apabila kita gantungkan dengan pertolongan Allah Swt. 

- Disarikan dari Pengajian Al-Hikam setiap Malam Selasa oleh Dr. KH. Abdul Kholiq Hasan, M.HI di Masjid Bumi Damai Al-Muhibin Tambakberas Jombang 6 Mei 2024. 

Ngaji Malam Senin Hadist Huruf Ra' (ر)

Ngaji Malam Senin Hadist Huruf Ra' (ر)

Dalam kitab Mukhtarul Ahadist halaman 80 disebutkan hadist-hadist yang berawalan huruf Ra' (ر). Kitab Mukhtarul Ahadist sendiri adalah kitab yang mengumpulkan 2000-an hadist dari kitab-kitab hadist yang mu'tabarah yang diriwayatkan Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Abu Daud. Juga mengambil dari kitab-kitab seperti Muwatha'-nya Imam Malik, Jamius Shogir dan Jami'u Kabir Imam Jalaludin al-Suyuthi, Dsb. 

Pada hadist Huruf Ra' yang pertama disebutkan tentang hal luar biasa yang mengiringi kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad yaitu sebuah hadist riwayat Ibnu Sa'ad : 

رأت أمى حين وضعتني سطع منها نور، أضاءت له قصور بصرى (رواه سعد عن ابي الفجعاه)

Artinya : Ibuku ketika melahirkanku melihat cahaya darinya yang cahaya itu menerangi istana-istana Basrah. 

Hadist-hadist tentang kelahiran Nabi kebanyakan menerangkan tentang hal-hal luar biasa yang mengiringi Nabi lahir. Seperti hadist di atas bahwa ketika Nabi lahir, Sayidah Aminah melihat cahaya yang keluar dari beliau dan cahaya itu menerangi istana-istana di Basrah.

Hadist-hadist lain yang banyak menceritakan tentang Nabi adalah hadist yang dinukil oleh Syekh Jakfar al-Barzanji dalam kitab Barzanji-nya. Pengarangnya adalah seorang Hakim Madzhab Maliki yang bermukim di Madinah. Beliau juga merupakan keturunan Nabi dari jalur Sa'adah yang berada di Barzanji Irak. Kitab tersebut semula dikarang untuk mengikuti Sayembara yang diadakan oleh Sholahuddin Al-Ayubi untuk memenagi perang Salib. 

Kitab yang berisi pujian kepada Nabi tersebut sampai sekarang mashur dibaca di masjid-masjid dan mushala serta pada acara-acara aqiqah, khitanan Dsb. Keutamaan kitab ini adalah orang yang rutin membacanya mampu menyambung komunikasi dengan Nabi. Dia akan mengetahui perangai dan ciri-ciri fisik Nabi. Sehingga jika satu ketika dia bermimpi bertemu Nabi dia akan mengetahui bahwa yang ada di depannya adalah Nabi. 

Hadist kedua huruf Ra' (ر) menjelaskan kepada kita tentang akhlaq kita kepada Allah dan sesama manusia bahwa : 

رأس العقل بعد الإيمان بالله التودد إلى الناس, واصطناع الخير الى كل برّ وفاجر, وإن اهل المعروف في الدنيا، هم اهل المعروف في الأخرة، وإن اهل المنكر في الدنيا، هم اهل منكر في الأخرة (رواه البيهقي)
Artinya: Pokok dari akal setelah iman kepada Allah adalah saling mengasihi  kepada sesama manusia. Bebuat baik kepada orang yang baik maupun kepada orang yang buruk. Sesungguhnya orang yang orang yang ahli melakukan kebaikan di dunia, dia adalah orang yang melakukan kebaikan di akhirat. Dan sesungguhnya orang yang membuat kerusakan di dunia. Dia adalah orang yang rusak menjadi ahli kerusakan di akhirat. 

Hadist di atas menjelaskan bahwa setelah uman hal penting yang perlu kita jaga adalah hubungan baik kepada sesama manusia. Yaitu dengan cara mengasihi. Bahkan anjuran berbuat baik tidak hanya kepada orang baik saja tetapi juga kepada orang yang berbuat jelek. Pada akhir hadist dijelaskan bahwa jika kita menjadi orang baik di dunia. Maka itu adalah tanda bahwa kita akan menjadi orang baik di akhirat. Sebaliknya jika ada orang jelek di dunia maka itu menjadi tanda dia akan jelek di akhirat. 

Termasuk yang paling utama berbuat baik adalah berbuat baik kepada orang tua. Sungguh rugi jika ada seorang yang punya orang tua tapi hidupnya tidak enak. Karena kunci kesuksesan anak adalah berbakti kepada orang tua. Diantara caranya adalah dengan menyisihkan rezeki kepada orang tua kita. Seperti yang dicontohkan Gus Baha' dalam salah satu ngajinya yaitu memberi sebagian hasil kerja kita kepada orang tua. Siapa yang bisa memanjakan orang tuanya maka dia akan dimanjakan oleh Allah. Dia akan diangkat derajatnya oleh Allah. 

Pada hadist huruf Ra' yang lain diceritakan ketika Nabi Muhammad Isra beliau bertemu Nabi Ibrahim dan titip salam kepada umatnya tentang sifat-sifat surga bahwa surga memilki tanah yang lembut dan rata. Memiliki air tawar yang bagus dan subur tanamannya. 

Pada hadist Ke-5 huruf Ra' (ر) dijelaskan pentingnya ibadah batin yaitu pahala syukur ketika makan lebih utama daripada pahala orang yang sabar dalam puasa. Nabi bersabda : 

رب طاعم شاكر اعظم اجرا من صائم صابر (رواه القضاعى)

Artinya : Banyak dari orang yang maka kemudian bersyukur lebih agung pahalanya daripada orang yang puasa yang sabar. 

Pada hadist Ke-6 disebutkan ada dua orang yang harus kita hindari yaitu orang ahli ibadah yang bodoh dan orang alim yang mau melakukan kejelekan (lacut). 

رب عابد جاهل ورب عالم فاجر، فاحذروا الجهال من العباد والفجار من العلماء 

Artinya : Jauhilah orang bodoh yang ahli ibadah dan ulama yang lacut tidak mau mengamalkan ilmunya. (*)

- Disarikan dari Pengajian Rutin Setiap Malam Senin oleh KH. Abdur Rosyad, M. PdI di Pondok Ar-Roudloh Jerukwangi. 

Ngaji Hikam Bab Tanda Orang Beruntung

Ngaji Hikam Bab Tanda Orang Beruntung

Disebutkan dalam Surat al-Isra ayat 18 sampai 19 bahwa:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهٗ فِيْهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَنْ نُّرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهٗ جَهَنَّمَۚ يَصْلٰهَا مَذْمُوْمًا مَّدْحُوْرًا (١٨) وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤئكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُوْرًا (١٩) 

Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (18) Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik. (19)

Barangsiapa yang ingin hidup enak di dunia saja. Allah akan menuruti keinginan orang tersebut. Akan tetapi besok di akhirat mereka akan dimasukan neraka jahanam dengan keadaan hina. Akan tetapi apabila ada orang ingin hidup di akhirat saja maka dia juga akan dipenuhi oleh Allah dengan syarat iman. Mereka  besok akan dimasukan surga-Nya Allah. 

Rata-rata dari kita menginginkan enak hidup di dunia dan di akhirat. Apabila disuruh memilih salah satunya jarang yang mau. Kita yang memilih akhirat saja, belum tahu bagaimana akhirat. Walaupun belum tahu kita yakin karena adanya janji-janji Allah tentang akhirat. 

Kita yang tidak tahu akhirat dan meyakini janji-janji Allah. Seperti anak kecil yang ingin sepeda motor tapi diberi syarat oleh orang tuanya untuk mondok dulu. Kita yang percaya dengan janji orang tua maka akan mondok dulu biar mendapatkan sepeda. Tapi jika tidak percaya dengan janji orang tua maka tidak akan mau mondok. 

Orang yang percaya dan iman kepada Allah serta adanya surga, neraka, dsb. Maka akan menjalankan kewajiban-kewajibanya kepada Allah. Sebaliknya apabila tidak percaya dan tidak iman maka mereka tidak akan mau menjalankannya. 

Siapakah orang yang ingin enak hidup di dunia saja?. Mereka adalah golongan orang kafir dan orang munafik. Siapakah orang kafir?. Mereka adalah orang yang tidak percaya kepada Allah. Sementara orang munafiq adalah orang yang antara apa yang diomongkan dan yang dijalanlan tidak sama.  Mereka berbohong kepada Allah padahal Allah tidak bisa dibohongi. Disebutkan dalam Alquran bahwa orang Munafiq adalah orang yang mengerjakan shalat tapi salatnya dengan bermalas-malasan. 

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang munafik ketika mendirikan sholat merekabermalas-malasan. Orang yang munafiq juga suka berpamer harta. Seperti ketika akan ibadah qurban. Mencari sapi yang paling besar dengan harga 50 juta. Ditulisi agar banyak orang yang tahu. Serta diumumkan di masjid. Orang yang senang pamer seperti ini maka seperti ciri orang munafiq. 

Tanda lain dari orang munafik adalah tidak mau zikir kepada Allah, kecuali hanya sedikit saja. Orang Munafiq memiliki ciri sedikit zikir dan wiridannya. Sementara orang yang tidak munafiq mereka akan berzikir dalam keadaan berdiri dan ketika duduk. Dalam surat Al-Isra ayat 19 disimpulkan bahwa orang yang menginginkan hidup enak di akhirat saja juga akan dituruti oleh Allah. Dalam satu riwayat disebutkan:

من عمل لاخرته كفاه الله امر دنياه ودنياه

Apabila ada orang beramal yang tujuannya hanya untuk akhirat saja maka Allah akan mencukupi urusan agamanya dan kebutuhan dunianya. Oleh karena itu  kita jangan sampai menjadi orang yang hanya ingin hidup enak di dunia saja. Tapi inginlah menjadi orang yang enak di akhirat. Sehingga nanti agama dan dunianya mengikuti. 

Mbah Yai Djamal semasa hidup yang diopeni adalah urusan-urusan akhirat. Mulai dari pengajian, pendidikan, dan santri. Yang kesemuanya adalah untuk mengajak kita memperhatikan urusan akhirat. Karena himmah beliau adalah akhitat sehingga kebutuhan beliua dicukupi oleh Allah tentang urusan-urusan dunianya. Hal ini berbeda dengan orang yang tujuannya hanya dunia saja. Mereka hanya akan dipenuhi urusan dunia saja. Tidak untuk akhiratnya. Ada beberap ciri orang yang beruntung yaitu :

من ترك الدنيا كلها أخذ الآخرة كلها

Artinya : Meninggalkan kesibukan urusan dunia secara keseluruhan itu merupakan mengambil akhirat secara total. 

Akhirat dan dunia adalah dua hal yang berbeda dan tidak bisa disatukan. Seperti satu laki-laki yang memiliki dua isteri. Dua isteri tersebut tidak bisa bersatu. Orang yang suka dengan enaknya dunia saja maka akhiratnya akan sengsara. Sebaliknya  Orang yang suka dengan akhirat saja maka dunia juga akan sengsara. Disebutkan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya. 

طوبى لمن ترك الدنيا قبل أن تتركه وبنى قبره قبل أن يدخله

Artinya : Beruntung orang yang meninggalkan dunia sebelum dia ditinggikan di oleh dunia. 

Rata-rata orang diceraikan oleh dunia sebelum mereka menceraikannya. Sebelum itu terjadi maka jadilah orang yang menceraikan dunia.  Oleh karena itu sebaiknya sebelum wafat harta dunianya segera dibagikan. Tapi banyak dari kita yang belum tahu. dan banyak yang tidak mengamalkan. Padahal itulah momen kita untuk menceraikan dunia. 

Abah Kiai Djamal sering cerita ketika Kiai Fattah wafat. Kemudian mertuanya yaitu Kiai Bisri Syansuri datang dan berkata bahwa harta warisan Mbah Fattah harus  segera dibagi agar Mbah Fattah tidak memiliki tangungan dunia. Akhirnya harta warisannya dihitung secepatnya. Lalu dibagikan kepada ahli warisnya. 

Mbah Bisri juga seperti itu. Ketika sudah sepuh semua harta sudah diberikan kepada ahli waris. Begitu meninggal sudah tidak membawa dunia. Harta yang ditinggalkan untuk ahli warisnya dan digunakan untuk membangun pondok. 

Hal itu juga ditiru oleh Abah Djamal. Ketika beliau akan wafat sudah pesan-pesan. Semua harta dan rumah sudah di bagi. Tinggal harta yang digunakan untuk operasional. Semua oleh beliau sudah dipesankan dan ketika wafat pun segera dibagikan. Akhirnya ketika beliau wafat. Belum 40 harinya semua harta warisan beliau sudah dibagikan semua. Beliau mengamalkan dawuh :

طوبى لمن ترك الدنيا قبل أن تتركه

Beruntung orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya.  Tanda orang beruntung yang kedua adalah: 

من بنى قبره قبل أن يدخله

Orang yang membangun kubur sebelum masuk ke dalamnya. Sekarang banyak artis yang sudah melalukan ini. Belum mati bahkan masih sehat sudah membeli tanah untuk pemakamannya. Apakah yang seperti itu yang dimaksud membangun kubur sebelum mati?. Tidak!.

Maksud pernyataan itu adalah semua manusia pasti mati. Dan orang mati pasti sendirian. Ketika di kubur tidak ada yang mau menemaninya. Isteri, anak, dan keluarga tidak mau menemani. Bahkan hartanya pun tidak menemani. Yang mau menemani hanya satu yaitu amal sholeh. 

Maksud dari ungkapan di atas adalah mempersiapkan amal sholeh sebagai bekal untuk persiapan mati. Hal ini selaras dengan hadist: 
الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت 

Artinya ; Orang yang paling cerdas adalah orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya dan orang yang beramal bersiap-siap untuk bekal kematiannya.  

Ada cerita orang sakit kemudian stroke ringan. Tambah berat akhirnya jadi stroke berat. Kemudian minta obat kepada Kiai. Oleh Pak Kiai diberi obat sekaligus nasihat bahwa apa yang menimpanya adalah bagian dari peringatan Allah untuk dia menjaga shalat 5 waktu. Selang waktu penyakitnya tambah berat.  Akhirnya diberi obat dan tambah berat lagi. Tapi dia tetap menjaga shalatnya. Tambah rajin dan sampai nangis-nangis. Akhirnya sehat. Ketika sehat pun dia tetap menjaga sholat. Tanda bahwa kita adalah orang yang beruntung kita memperisapkan amal sholeh untuk bekal kematian. Tanda yang lain adalah:

وارضى ربه قبل ان يلقاه

Orang yang beruntung adalah orang yang ridla dan percaya dengan Allah sebelum bertemu dengan-Nya. Ia tetap sabar ketika sulit dan bersyukur ketika mendapat kesenangan. Hal ini sesuai dengan dawuh dalam Al-Hikam: 

وجدان ثمرات الطاعة عاجل ، وبشائر العاملين بوجود الجزاء عليها آجل
Di dunia ada orang yang ibadah dan merasa tenang serta nikmat hidupnya. Hal-hal seperti itu adalah bentuk pembalasan Allah di dunia dan merupakan tanda adanya balasan atas ibadah dan ketaatan kita besok di akhirat. 

Sayid Zainal Abidin putra dari Sayid Khusain cucu dari Nabi. Beliau pernah sholat 2 rokaat satu salaman. Saking nikmat sholat seolah bertemu Allah. Setelah selesai kurang dan menambah lagi 2 rokaat. Terus nikmat lagi dan nambah 2 sholat lagi. Hal itu terjadi sampai 1000 rokaat. Hal ini karena nikmat dan merasa ridla kepada Allah. Sehingga dari 2 rokaat menjadi 1000 rokaat.

Saya pernah seperti itu, meniru dua rokaatnya Sayid Zainal Abidin dan memang merasa nikmat. Saya tambah jadi 4 rokaat. Saya tambah lagi, tapi hanya sampai 10 rokaat. Setelah itu belum bisa nikmat. Tapi satu ketika saya baru sholat dua rokaat saja sudah tidak merasa nikmat. Ini karena kelas kita masih rendah.

Berbeda dengan kelasnya para ulama dan para Auliya. Karena mereka ridla kepada Allah sehingga ibadahnya menjadi enak. Dalam pernyataan hikam yang lain disebutkan: 

لو أشرق لك نور اليقين لرأيت الآخرة أقرب إليك من أن ترحل إليها

Orang yang nur bashirahnya sudah menancap dalam hati. Akhirat sudah dirasakan di dunia. Sehingga merasa nikmat dalam ibadah seperti yang dilakukan oleh Sayid Zainal Abidin. Kita yang masih sangat munafiq dalam shalat bisa kita kurangi sedikit-sedikit kemunafikan itu sampai akhirnya seperti para ulama shalat bisa nikmat. 

Jika sholat belum nikmat, wiridan belum enak, teruskan saja, wiridannya terus, zikirmya terus, dan shalat terus sampai kepada yang kita cita-citakan merasa nikmat dalam ibadah. (*)

- Disarikan dari Pengajian Al-Hikam setiap Malam Selasa oleh KH. M. Hasyim Yusuf di Bumi Damai Al-Muhibin Tambakberas 29 April 2024. 

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik